Intensnews.id, PALEMBANG – Sebagaimana telah kita ketahui, bahasa merupakan alat komunikasi utama antar manusia, termasuk bagi anak usia dini. Bahasa memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan anak. Pertama, anak mengenal dunia di sekitarnya melalui bahasa.
Proses ini bermula dari rangsangan yang diterima oleh panca indra, kemudian diteruskan ke sistem saraf pusat untuk diproses. Kedua, anak membutuhkan bahasa untuk menyampaikan keinginan, perasaan, dan kebutuhannya.
Melalui bahasa inilah terjalin komunikasi dan interaksi dengan orang-orang di sekelilingnya. Ketiga, perkembangan berbagai aspek dalam diri anak sangat dipengaruhi oleh kemampuan berbahasa.
Bahasa membantu menunjang tumbuh kembang anak secara menyeluruh, mulai dari aspek keagamaan dan moral, fisik-motorik, kognitif, sosial-emosional, hingga bahasa itu sendiri serta seni.
Bahasa manusia terbentuk dari berbagai unsur, seperti bunyi (fonetik), kata (morfologi), kalimat (sintaksis), makna (semantik), hingga cara penyampaian (pragmatik). Dalam proses pemerolehan bahasa, anak-anak biasanya memulainya dengan mengeluarkan suara.
Misalnya, pada masa awal pertumbuhan, bayi mulai belajar memanggil ayah atau ibunya melalui pengamatan dan pengalaman mendengar dari lingkungan sekitarnya.
Setelah mampu mengeluarkan suara, secara bertahap mereka akan mulai mengenal kosakata dan mempelajari struktur bahasa yang sederhana. Seiring waktu, anak juga mulai memahami makna dari kata-kata yang mereka dengar dan ucapkan. Pemaknaan ini bisa berbeda-beda, tergantung pada pengalaman pribadi masing-masing anak.
Pelafalan pun bervariasi, dipengaruhi oleh pola asuh dalam keluarga dan latar domisili. Oleh karena itu, perkembangan bahasa menjadi aspek penting dalam tahap tumbuh kembang anak usia dini, yang seharusnya mendapat perhatian serius dari orang tua dan pendidik.
Dalam Permendikbud Nomor 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional PAUD, telah diatur tingkat pencapaian perkembangan bahasa anak usia 5-6 tahun dalam hal kemampuan menyimak, yaitu 1) menjawab pertanyaan yang lebih kompleks; 2) menyebutkan kelompok gambar yang memiliki bunyi yang sama; 3) berkomunikasi secara lisan, memiliki pembendaharaan kata, serta mengenal simbol-simbol untuk persiapan membaca, menulis, dan berhitung; 4) menyusun kalimat sederhana dalam struktur lengkap; 5) memiliki lebih banyak kata untuk mengekspresikan ide kepada orang lain; 6) melanjutkan sebagian cerita/dongeng yang telah diperdengarkan; dan 7) menunjukkan pemahaman konsep dalam buku cerita.
Dalam proses pemerolehan keterampilan berbahasa, kemampuan berbicara merupakan tahapan kedua setelah keterampilan menyimak. Artinya, menyimak dan berbicara saling berkaitan erat—anak yang memiliki kemampuan menyimak yang baik cenderung juga akan mampu berbicara dengan baik. Sejalan dengan itu, ada dua aspek utama yang dapat digunakan sebagai acuan dalam menilai keterampilan berbicara anak:
Kemampuan Melafalkan Satuan Bahasa
Anak yang memiliki kemampuan berbicara yang baik biasanya dapat mengucapkan kalimat secara utuh. Misalnya, saat anak mengatakan “Aku suka makan,” itu menunjukkan bahwa ia mampu menyusun dan melafalkan rangkaian kata dengan benar. Kalimat tersebut juga menunjukkan bahwa anak memahami makna dari apa yang ia ucapkan—dalam hal ini, bahwa ia senang melakukan kegiatan makan.
Kemampuan Mengungkapkan Keinginan dan Gagasan
Anak yang sudah mahir berbicara akan mampu menyampaikan keinginan, pendapat, atau hal-hal yang ia sukai kepada orang lain. Ungkapan yang disampaikan bukan sekadar rangkaian kata tanpa makna, tetapi mengandung tujuan dan arti tertentu. Kemampuan anak untuk menyampaikan sesuatu dengan maksud yang jelas menunjukkan bahwa keterampilan berbicaranya sudah berkembang dengan baik.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif. Membaca adalah bentuk komunikasi yang melibatkan kemampuan untuk menerjemahkan simbol-simbol verbal seperti huruf dan kata yang tertulis, ke dalam bentuk lisan yang bermakna. Proses ini tidak hanya mengandalkan penglihatan, tetapi juga melibatkan pendengaran, ingatan, imajinasi, pengamatan, pemahaman, serta kemampuan berbicara yang baik. Dalam mengembangkan keterampilan membaca pada anak, terdapat beberapa aspek penting yang dapat dijadikan acuan untuk menganalisis kemampuan mereka, yaitu:
Melafalkan Lambang Bunyi
Kemampuan awal dalam membaca ditunjukkan melalui kemampuan anak melafalkan lambang bunyi, yaitu huruf, kata, dan kalimat yang membentuk suatu wacana. Anak yang memiliki keterampilan membaca yang baik akan mampu melafalkan bunyi-bunyi tersebut dengan pengucapan yang tepat, baik dari segi intonasi maupun jeda kata.
Memahami Makna dan Informasi dari Teks Sederhana
Membaca bukan sekadar mengucapkan kata demi kata, tetapi juga tentang memahami isi bacaan. Ketika anak membaca, mereka sedang belajar mengenali makna dari kata dan kalimat yang dibaca. Kemampuan anak dalam menyimak dan melafalkan bacaan akan sangat membantu mereka memahami informasi yang terkandung dalam teks, terutama pada teks-teks sederhana.
Menurut opini Penulis Bahasa bukan sekadar alat komunikasi bagi anak usia dini, bahasa adalah jendela untuk mengenal dunia. Dari menyimak, berbicara, hingga membaca, setiap tahap perkembangan bahasa saling mendukung dan sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Ketika anak mampu menyampaikan keinginan atau memahami isi cerita sederhana, itu bukan hanya soal kata-kata, tapi juga kemampuan berpikir, merasa, dan berinteraksi. Maka dari itu, peran orang tua dan guru sangat penting dalam mendampingi proses ini. Lingkungan yang kaya akan percakapan dan bacaan akan membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan cerdas dalam berkomunikasi.






