Kayuagung, OKI , IntenNews.id — Kasus pembegalan terhadap seorang pelajar di kawasan Jembatan Tol Kayuagung–Arisan Buntal menuai perhatian luas dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa. Peristiwa yang terjadi pada Minggu (12/4/2026) ini dinilai sebagai peringatan serius terhadap kondisi keamanan di wilayah tersebut.
Ketua BEM IAIN Ash-Shiddiqiyah, Setiawan Jhordy, menyampaikan keprihatinannya dan menilai kejadian ini bukan sekadar tindak kriminal biasa.
“Ketika pelajar menjadi korban di ruang publik, ini menunjukkan bahwa rasa aman masyarakat sedang terancam. Negara harus hadir tidak hanya saat kejadian, tetapi juga melalui langkah pencegahan yang nyata,” ujarnya.
Ia menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap pola penanganan kejahatan yang selama ini dinilai masih bersifat reaktif. Menurutnya, pendekatan preventif harus diperkuat melalui peningkatan patroli, pemetaan wilayah rawan, serta optimalisasi pengawasan berbasis teknologi.
Selain itu, kondisi minimnya penerangan dan pengawasan di lokasi kejadian juga dinilai menjadi faktor yang mempermudah pelaku melakukan aksinya.
“Perbaikan infrastruktur, terutama penerangan jalan, menjadi kebutuhan mendesak untuk menekan potensi kejahatan,” tambahnya.
Dalam pernyataannya, BEM IAIN Ash-Shiddiqiyah menyampaikan sejumlah tuntutan, antara lain mendesak aparat kepolisian untuk mengusut tuntas kasus tersebut secara profesional dan transparan, meningkatkan intensitas patroli di wilayah rawan, serta mendorong pemerintah daerah memperbaiki fasilitas publik.
Mahasiswa juga mengajak masyarakat untuk turut berperan aktif menjaga keamanan lingkungan melalui kewaspadaan dan koordinasi dengan aparat setempat.
Menurut Setiawan, persoalan kriminalitas tidak hanya berkaitan dengan aspek keamanan, tetapi juga dipengaruhi faktor sosial dan ekonomi, sehingga penanganannya harus dilakukan secara komprehensif dan melibatkan berbagai pihak.
Ia menegaskan bahwa keamanan merupakan hak dasar masyarakat yang harus dijamin negara. Tanpa rasa aman, aktivitas sosial dan ekonomi akan terganggu serta berpotensi menurunkan kepercayaan publik terhadap institusi.
Kasus ini diharapkan menjadi momentum evaluasi bersama guna memperkuat sistem keamanan yang lebih efektif dan berkelanjutan.






