Siloam Hospitals Sriwijaya Perkuat Kolaborasi Multidisiplin Lewat Cardiology Symposium 2026

  • Bagikan

PALEMBANG,IntensNews.id – Siloam Hospitals Sriwijaya terus memperkuat kualitas pelayanan kesehatan, khususnya dalam penanganan penyakit kardiovaskular, melalui penyelenggaraan Siloam Sriwijaya Cardiology Symposium 2026 di Palembang, Sabtu (31/10/2026).

Kegiatan bertema “Cardiovascular Continuum: Advancing Care Through Multidisciplinary Collaboration” ini menjadi wadah edukasi dan diskusi bagi dokter umum serta dokter spesialis untuk memperkuat kolaborasi lintas disiplin dalam menangani penyakit jantung dan pembuluh darah.

Berdasarkan data World Heart Observatory 2024, penyakit kardiovaskular menyebabkan hampir 700.000 kematian setiap tahun di Indonesia. Angka tersebut menjadikan penyakit kardiovaskular sebagai salah satu penyebab utama kematian sekaligus tantangan besar bagi sistem pelayanan kesehatan nasional.

Executive Director Siloam Hospitals Sriwijaya Palembang, Andry Sjamsu, EMBA, MARS, M.M., mengatakan bahwa penyelenggaraan simposium ini merupakan bagian dari komitmen rumah sakit dalam meningkatkan kompetensi tenaga medis dan memperkuat koordinasi klinis.

“Melalui Siloam Sriwijaya Cardiology Symposium, kami ingin terus mendorong pengembangan pengetahuan sekaligus memperkuat kolaborasi antartenaga medis. Pelayanan kesehatan yang berkualitas tidak hanya didukung oleh fasilitas dan teknologi, tetapi juga oleh kolaborasi klinis yang kuat untuk memastikan setiap pasien mendapatkan penanganan sesuai kondisi dan kebutuhan kesehatannya,” ujar Andry.

Dalam simposium tersebut, tiga dokter spesialis dari bidang berbeda berbagi pengetahuan dan perspektif mengenai keterkaitan kesehatan jantung, paru-paru, dan otak.

Ketiga narasumber tersebut yakni Dr. dr. Alexander Edo Tondas, Sp.JP, Subsp. K.I(K), FIHA, FICA, FAPSC, FESC, M.H., spesialis jantung dan pembuluh darah; dr. Dini Rizkie Wijayanti, Sp.P(K) Onk, FISR, spesialis pulmonologi dan kedokteran respirasi; serta dr. Henry Sugiharto, Sp.N, Subsp. NNN(K), FMIN, spesialis neurologi.

Dr. dr. Alexander Edo Tondas menjelaskan bahwa penyakit kardiovaskular merupakan rangkaian kondisi yang dapat berkembang dari faktor risiko hingga menjadi penyakit dengan tingkat kompleksitas lebih tinggi.

“Penyakit kardiovaskular merupakan suatu rangkaian yang dimulai dari faktor risiko hingga dapat berkembang menjadi kondisi klinis yang lebih kompleks. Karena itu, kolaborasi antarspesialis sangat penting agar faktor risiko dapat dikenali lebih dini dan pasien mendapatkan tata laksana yang tepat serta berkesinambungan,” jelasnya.

Dari perspektif pulmonologi, dr. Dini Rizkie Wijayanti menyoroti pentingnya evaluasi pasien secara menyeluruh, terutama karena gangguan jantung dan paru-paru dapat memiliki gejala yang saling berkaitan.

“Keluhan pada jantung dan paru dapat saling berkaitan dan dalam beberapa kondisi memiliki gejala yang hampir serupa. Pendekatan multidisiplin membantu dokter melihat pasien secara lebih komprehensif sehingga proses evaluasi, diagnosis, dan penanganan dapat dilakukan dengan lebih terarah,” ungkap dr. Dini.

Sementara itu, dr. Henry Sugiharto menekankan eratnya hubungan antara kesehatan jantung, pembuluh darah, dan otak. Menurutnya, pengelolaan faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, gangguan irama jantung, serta gangguan metabolik menjadi bagian penting dalam mencegah komplikasi neurologis.

“Kesehatan jantung, pembuluh darah, dan otak memiliki hubungan yang sangat erat. Faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, gangguan irama jantung, maupun gangguan metabolik perlu dikelola secara menyeluruh. Kolaborasi lintas disiplin menjadi penting agar risiko komplikasi dapat dikenali dan ditangani sedini mungkin,” paparnya.

Konsep cardiovascular continuum yang diangkat dalam simposium ini menekankan bahwa perjalanan penyakit kardiovaskular dapat dimulai jauh sebelum gejala muncul atau terjadi kondisi akut.

Faktor risiko yang tidak terkontrol berpotensi berkembang menjadi kerusakan organ dan meningkatkan kompleksitas penyakit. Karena itu, penanganan membutuhkan pendekatan berkesinambungan, mulai dari pengelolaan faktor risiko, deteksi dini, diagnosis, intervensi medis, hingga pemantauan jangka panjang.

Hospital Director Siloam Hospitals Sriwijaya Palembang, Ns. Benedikta Betty Bawaningtyas, S.Kep., M.M., FISQua., berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat pertukaran pengetahuan dan koordinasi antartenaga medis.

“Dalam praktik klinis, kita semakin sering menghadapi pasien dengan kondisi yang kompleks dan melibatkan lebih dari satu faktor risiko maupun penyakit penyerta. Melalui simposium ini, kami berharap para dokter dapat saling bertukar perspektif dan semakin memperkuat koordinasi klinis untuk mendukung pengambilan keputusan medis yang tepat sesuai kebutuhan setiap pasien,” ujarnya.

Melalui forum ilmiah dan kolaborasi lintas spesialisasi, Siloam Hospitals Sriwijaya berkomitmen untuk terus mendorong pengembangan kompetensi tenaga medis serta menghadirkan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan berkesinambungan.

Dengan dukungan keahlian medis dan koordinasi klinis yang baik, masyarakat Palembang, Sumatera Selatan, dan wilayah sekitarnya diharapkan dapat memperoleh pelayanan serta penanganan kesehatan yang tepat sesuai kebutuhan masing-masing pasien.
(RIL)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *