BPBD Banten Siaga Antisipasi Bencana Hidrometeorologi Jelang Nataru 2025–2026

  • Bagikan

Banten, Intensnews.id — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Sejumlah langkah antisipasi dilakukan mulai dari pemantauan dini, edukasi kebencanaan bagi pelaku wisata, hingga koordinasi lintas daerah.

Kepala BPBD Banten, Lutfi Mujahidin, mengatakan persiapan teknis telah dilakukan sejak jauh hari. Sistem peringatan dini juga telah dipasang di sejumlah titik rawan. Selain itu, BPBD intens melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan pelaku wisata menjelang puncak libur akhir tahun.

“Sejak lama juga sudah sosialisasi ke masyarakat, terutama mendekati akhir tahun yang biasanya musim pariwisata. Tujuannya untuk menghindari berita hoaks dan kekhawatiran masyarakat berwisata ke Banten. Kita akan melakukan edukasi ke balawisata di Serang, Tangerang, dan Cilegon,” ujar Lutfi usai Apel Kesiapsiagaan BPBD Banten menghadapi Nataru 2025–2026.

BPBD Banten telah memetakan delapan lokasi utama wisata yang tersebar di Serang, Tangerang, Cilegon, Anyer dan kawasan lainnya. Lokasi tersebut diprioritaskan untuk peningkatan kesiapsiagaan mengingat tingginya aktivitas wisata pada masa libur akhir tahun.

“Intinya kita melatih pelaku pariwisata mengenai bagaimana menolong korban, cara komunikasi dengan BPBD, sehingga ketika terjadi bencana mereka tidak panik dan tahu apa yang harus dilakukan,” tambahnya.

Tidak hanya kawasan pantai, edukasi juga menyasar lokasi wisata air seperti waduk dan situ, terutama di wilayah Tangerang yang memiliki banyak titik rawan.

Dalam mendukung mitigasi bencana Nataru, BPBD Banten menyiagakan 143 personel. Kekuatan tersebut akan diperkuat oleh personel tambahan dari BPBD kabupaten/kota yang memiliki pos siaga di wilayah masing-masing. Peralatan standar penanganan bencana seperti chainsaw, pemecah batu, dan alat pemotong tembok cor juga disiapkan.

Lutfi menegaskan bahwa kolaborasi lintas daerah menjadi kunci efektivitas penanganan bencana selama libur panjang. Ia menyebut kapasitas BPBD Provinsi Banten tidak cukup jika bekerja sendiri tanpa dukungan pemerintah kabupaten/kota.

“Sifatnya kita kolaborasi dengan kabupaten/kota. Kalau hanya mengandalkan provinsi tidak akan cukup dari sisi personel dan logistik. Makanya kita kolaborasi,” katanya.

Pada hari libur, BPBD tetap menempatkan personel di posko dan mengandalkan jejaring relawan di lapangan sebagai sumber utama informasi cepat.

“Kalau hari libur, kita standby di posko. Cuma kita punya link dengan para relawan, jadi informasi datang dari mereka. Selama ini kita rekrut relawan karena mereka yang berada di garis terdepan dalam segala hal, baik bencana, pariwisata maupun perekonomian,” pungkasnya.

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *