Di Balik Cara Mengajar: Kepribadian Pendidik dalam Membentuk Siswa Berakhlak Karimah di Era Digital

  • Bagikan

IntensNews.id – Pernah nggak kita iseng nanya ke diri sendiri guru mana yang paling kita ingat sampai sekarang, dan kenapa? Jawabannya jarang sekali soal materi atau nilai ujian. Yang lebih sering muncul justru hal-hal yang lebih sulit dijelaskan: guru yang bikin kita merasa dihargai, yang caranya merespons pertanyaan “bodoh” sekalipun tetap bikin kita mau bertanya lagi. Itu yang membekas. Bukan rumusnya. Bukan materinya.

Ada sesuatu yang lebih serius di balik fenomena itu, sesuatu yang berbicara tentang bagaimana karakter manusia terbentuk. Karakter tidak tumbuh dari hafalan. Ia tumbuh dari pengalaman berulang: melihat, merasakan, lalu tanpa sadar meniru. Dan di sekolah, orang yang paling sering dilihat dan dirasakan kehadirannya adalah guru.

Makanya agak ironis kalau kita perhatikan bagaimana diskusi soal pendidikan biasanya berjalan. Yang paling banyak dibahas adalah kurikulum, metode mengajar, teknologi di kelas. Semua itu penting.

Tapi ada satu variabel yang jarang masuk agenda: kepribadian pendidiknya sendiri. Siapa dia sebagai manusia.

Apakah nilai-nilai yang dia ajarkan benar-benar tercermin dalam cara dia bersikap sehari-hari.

Dalam konteks pendidikan Islam, tujuan membentuk siswa yang berakhlak karimah sering kali tereduksi menjadi penambahan jam pelajaran agama atau program keislaman yang terstruktur rapi di atas kertas. Semuanya bagus.

Tapi ada yang tidak bisa digantikan oleh semua itu: teladan yang nyata. Akhlak itu ditularkan, bukan diceramahkan.

Guru yang dengan sabar mengulang penjelasan tanpa tampak frustrasi sedang menunjukkan seperti apa kesabaran dalam praktiknya.

Guru yang di depan kelas mengakui “saya salah tadi, maaf ya” sedang mengajarkan bahwa mengakui kesalahan bukan hal yang memalukan.

Guru yang memperlakukan semua siswa dengan hormat tanpa pandang latar belakang sedang mengajarkan keadilan jauh lebih efektif dari ceramah manapun.

Semua itu terjadi bukan melalui instruksi, tapi melalui contoh yang hidup setiap hari.

Tapi konteksnya sekarang jauh lebih rumit. Karena guru bukan lagi satu-satunya teladan yang hadir dalam kehidupan siswa.

Di era digital ini, setiap hari siswa terpapar pada lautan konten dari berbagai platform. Sebagian memang bermanfaat.

Tapi tidak sedikit yang secara halus membawa nilai-nilai yang bertentangan dengan akhlak karimah—konten yang merayakan arogansi, menormalisasi kebohongan, menjadikan ketidakhormatan sebagai humor.

Dan semua itu dikemas jauh lebih menarik dari buku teks mana pun, sehingga sangat mudah diserap tanpa filter.

Dalam situasi seperti ini, guru perlu menjadi semacam jangkar—titik referensi yang stabil di tengah arus yang terus menarik siswa ke berbagai arah.

Dan untuk bisa jadi jangkar, dia sendiri harus punya fondasi yang kuat. Guru yang sikapnya tidak konsisten, yang mengatakan satu hal tapi melakukan hal lain, akan kehilangan pengaruh moralnya meski secara teknis dia pengajar yang cakap.

Siswa generasi sekarang sangat tajam dalam mendeteksi kepalsuan. Guru yang mengajarkan kejujuran tapi menyembunyikan kesalahannya sendiri, yang berbicara tentang menghargai orang lain tapi jelas punya “anak emas” di kelas—siswa melihat semua itu.

Dan sekali kepercayaan retak, susah untuk diperbaiki. Sebaliknya, guru yang kepribadiannya benar-benar selaras dengan apa yang dia ajarkan punya pengaruh yang jauh melampaui jam pelajarannya.

Siswa akan menghormatinya bukan karena takut, tapi karena memang melihat sesuatu yang layak dihormati. Dari rasa hormat yang tulus itulah nilai-nilai bisa benar-benar meresap.

Satu hal yang perlu diakui: menjaga kepribadian yang baik bukan perkara gampang dalam kondisi kerja yang semakin berat.

Kelelahan bisa mengikis siapa pun. Makanya tanggung jawab ini tidak bisa hanya diletakkan di pundak guru secara individual.

Sekolah perlu menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan karakter gurunya—memberi ruang untuk refleksi, menghargai integritas, dan membangun budaya saling menguatkan antar pendidik.

Membentuk generasi berakhlak karimah adalah pekerjaan panjang yang dibangun dari akumulasi momen-momen kecil. Tidak ada program yang menjamin hasilnya dalam satu semester.

Yang ada hanyalah pilihan-pilihan harian seorang guru—bagaimana dia bersikap, bagaimana dia merespons, bagaimana dia hadir di hadapan siswanya setiap hari.

Di balik semua teknologi dan metode pembelajaran yang terus berkembang, yang paling menentukan tetap sederhana: siapa guru itu sebagai manusia.

Karena siswa tidak hanya belajar dari apa yang diajarkan. Mereka belajar dari siapa yang mengajarkan.

Oleh ; Zila Araika Salsabila

dosen: Ustadzah Qiyadah Robahniyah

kampus: Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Madani Yogyakarta

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *