Di Balik Merah Putih, FORDISMAASIQ Konsolidasikan Gerakan Mahasiswa dan Maknai Kemerdekaan

  • Bagikan

IAI Nusantara Ash-Shiddiqiyah, INTENNEWS.ID – Memperingati 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, Forum Diskusi Mahasiswa IAI Nusantara Ash-Shiddiqiyah (FORDISMAASIQ) menggelar NGOPI (Ngobrol Pintar & Refleksi Hari Kemerdekaan) dengan tema “Di Balik Merah Putih: Membaca Ulang Makna Kemerdekaan”, Kamis (13/8/2026), di Aula Kampus IAI Nusantara Ash-Shiddiqiyah.

Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Rektor III IAI Nusantara Ash-Shiddiqiyah, jajaran Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA), ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi (HIMA), serta berbagai organisasi mahasiswa di lingkungan kampus.

Forum yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kementerian Luar Negeri, dan Kementerian Sosial Masyarakat DEMA IAI Nusantara Ash-Shiddiqiyah tersebut tidak hanya menjadi ruang refleksi sejarah kemerdekaan, tetapi berkembang menjadi ruang bertukar gagasan dan konsolidasi kesadaran mahasiswa dalam membaca berbagai persoalan sosial.

Sejumlah isu dibahas dalam forum, mulai dari pendidikan, ekonomi, demokrasi, kehidupan masyarakat hingga hubungan antara mahasiswa dengan kekuasaan.

Kemerdekaan Tidak Berhenti pada Seremoni

Dalam diskusi tersebut, makna kemerdekaan tidak hanya ditempatkan sebagai perayaan tahunan. Merah putih dipandang sebagai simbol yang mengingatkan generasi muda terhadap cita-cita keadilan, kesejahteraan, pendidikan, kebebasan, serta kehidupan masyarakat yang bermartabat.

Presiden Mahasiswa IAI Nusantara Ash-Shiddiqiyah, Muhammad Muhsinin, menegaskan bahwa kemerdekaan harus diisi dengan sikap kritis dan tanggung jawab moral.

“Jangan sampai kita hanya pandai mengibarkan merah putih, tetapi gagap ketika melihat rakyat berhadapan dengan ketidakadilan. Jangan sampai kita hafal sejarah perjuangan para pahlawan, tetapi lupa bahwa perjuangan itu memiliki konsekuensi moral bagi generasi hari ini.”

Menurut Muhsinin, Indonesia memang telah merdeka secara historis dan konstitusional. Namun, perjuangan untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan masih menjadi tanggung jawab generasi saat ini.

“Indonesia memang telah merdeka. Tetapi apakah perjuangan telah selesai? Belum. Selama masih ada rakyat yang kesulitan memperoleh pendidikan, pekerjaan, pelayanan publik, dan keadilan, masih ada pekerjaan besar yang harus kita selesaikan.”

Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan media sosial sebagai satu-satunya ruang perjuangan.

“Mahasiswa harus kembali kepada fungsi intelektualnya. Kita harus membaca sebelum berbicara, mengkaji sebelum bergerak. Tetapi setelah mengetahui persoalan, jangan kemudian memilih diam.”

Idealisme Mahasiswa dan Tanggung Jawab Moral

Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, Sofia Arifatus Shofa, menilai perubahan harus dimulai dari keberanian mahasiswa untuk keluar dari sikap apatis dan ketidakpedulian.

Menurutnya, mahasiswa harus berani mempertanyakan persoalan yang dinilai tidak sesuai dengan nilai keadilan, namun tetap mengedepankan etika.

“Berani bukan berarti sembarangan. Kritis bukan berarti kehilangan etika. Melawan ketidakadilan bukan berarti membenci bangsa sendiri. Justru karena kita mencintai negeri ini, kita tidak boleh pura-pura tidak melihat persoalannya.”

Sofia juga menekankan bahwa ilmu yang diperoleh mahasiswa tidak boleh berhenti di ruang kelas.

“Kalau ilmu hanya menjadi nilai di atas kertas dan tidak mampu menyentuh persoalan masyarakat, maka kita harus bertanya kembali untuk apa ilmu itu kita pelajari.”

Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan

Sementara itu, Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Dini Nur Anjani, menyoroti pendidikan sebagai salah satu bagian penting dari makna kemerdekaan.

Menurutnya, kemerdekaan tidak akan utuh apabila masih terdapat masyarakat yang kesulitan memperoleh pendidikan yang layak.

“Bangsa yang merdeka tidak boleh membiarkan generasinya terjebak dalam kebodohan. Pendidikan bukan sekadar jalan mendapatkan ijazah. Pendidikan adalah jalan untuk membangun kesadaran, membuka pikiran, dan memberikan keberanian kepada manusia untuk menentukan masa depannya.”

Dini menilai keberhasilan pendidikan tidak cukup hanya diukur dari pencapaian akademik.

“Kalau pendidikan membuat kita pintar tetapi tidak peduli, maka ada sesuatu yang harus kita pertanyakan. Ilmu seharusnya membuat manusia semakin sadar, bukan semakin jauh dari realitas.”

Kemerdekaan Politik dan Kemandirian Ekonomi

Dari perspektif ekonomi, Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah, Yoga Andika, mengaitkan kemerdekaan dengan kemandirian ekonomi dan pemerataan kesejahteraan masyarakat.

“Kita boleh mengatakan bahwa bangsa ini berdaulat secara politik. Tetapi kita juga harus berani bertanya: apakah masyarakat sudah berdaulat atas kehidupan ekonominya sendiri?”

Yoga menyoroti persoalan ketimpangan ekonomi, kesempatan kerja, akses ekonomi, dan pemerataan kesejahteraan.

“Jangan sampai pertumbuhan ekonomi hanya menjadi angka yang indah di laporan, tetapi tidak terasa di dapur masyarakat. Jangan sampai pembangunan terlihat megah dari kejauhan, tetapi masyarakat di sekitarnya masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar.”

Menurutnya, pembangunan ekonomi harus menempatkan manusia sebagai bagian utama dari kebijakan.

Aktivis Alumni Jadi Pemantik Diskusi

Untuk memperdalam pembahasan, FORDISMAASIQ turut menghadirkan salah satu aktivis sekaligus alumni IAI Nusantara Ash-Shiddiqiyah dari Lampung sebagai pemantik.

Pengalaman mengenai dinamika organisasi, gerakan mahasiswa, serta realitas perjuangan di lapangan turut memperkaya diskusi.

Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya mahasiswa mempertahankan keberanian dan kepekaan dalam membaca situasi sosial.

“Sebagai mahasiswa, kita tidak boleh takut kepada aparat ketika yang kita perjuangkan adalah kebenaran dan kepentingan masyarakat. Jangan sampai seragam, jabatan, atau kekuasaan membuat kita kehilangan keberanian untuk bertanya.”

Namun, ia menegaskan bahwa sikap kritis tidak berarti mahasiswa harus memusuhi aparat maupun institusi negara.

“Kita tetap menghormati institusi dan hukum. Tetapi ketika ada tindakan yang merugikan masyarakat atau menyimpang dari aturan, mahasiswa tidak boleh kehilangan keberanian untuk mengkritisi dan mempertanyakannya.”

Ia juga mengingatkan mahasiswa agar membangun sikap kritis berdasarkan pengetahuan dan data.

“Jangan hanya marah. Pelajari persoalannya. Jangan hanya berteriak. Baca datanya. Jangan hanya menuduh. Cari faktanya. Kritik mahasiswa harus lahir dari pengetahuan, bukan sekadar emosi.”

Dari Diskusi Menuju Konsolidasi

Berbagai pandangan yang muncul dalam NGOPI tersebut kemudian mengarah pada satu kesadaran bersama bahwa kemerdekaan tidak cukup hanya dirayakan, tetapi harus diisi melalui kerja intelektual dan tanggung jawab sosial.

Konsolidasi mahasiswa dalam forum tersebut diarahkan untuk membangun kesadaran bersama dalam membaca persoalan, mengkaji berbagai kebijakan, mengawal jalannya kekuasaan, serta memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Kehadiran Wakil Rektor III juga memberikan ruang dialog antara mahasiswa dan unsur pimpinan perguruan tinggi. Forum tersebut menjadi salah satu bentuk ruang akademik untuk menyampaikan gagasan, perbedaan pandangan, serta membangun tradisi diskusi yang sehat.

Perbedaan organisasi maupun cara pandang tidak dipandang sebagai alasan untuk memutus persatuan, khususnya ketika persoalan yang dibicarakan menyangkut kepentingan masyarakat dan masa depan bangsa.

Setelah NGOPI, Apa?

Pertanyaan yang menjadi tantangan setelah forum tersebut adalah apa yang akan dilakukan setelah diskusi berakhir.

Sebab, diskusi tidak seharusnya berhenti pada kesimpulan, kritik tidak berhenti pada unggahan media sosial, dan idealisme tidak berhenti ketika mahasiswa meninggalkan ruang forum.

NGOPI FORDISMAASIQ diharapkan menjadi titik awal bagi lahirnya ruang-ruang diskusi, kajian, dan konsolidasi yang lebih berkelanjutan.

Mahasiswa tidak cukup hanya bertanya, “Apa yang salah dengan bangsa ini?”, tetapi juga harus berani bertanya, “Apa yang bisa kita lakukan?”

Di titik tersebut, konsolidasi menjadi penting. Gerakan membutuhkan pengetahuan agar tidak kehilangan arah, sementara pengetahuan membutuhkan keberanian agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Mahasiswa membutuhkan keduanya: ilmu untuk membaca keadaan dan keberanian untuk mengambil sikap.

Pada akhirnya, tema “Di Balik Merah Putih” bukan sekadar tema diskusi. Ia menjadi refleksi mengenai arti kemerdekaan bagi generasi muda.

Merah putih tidak hanya menjadi simbol yang dikibarkan setiap bulan Agustus, tetapi juga pengingat bahwa kemerdekaan membawa tanggung jawab untuk terus memperjuangkan pendidikan, keadilan, kesejahteraan, demokrasi, dan kehidupan masyarakat yang lebih bermartabat.

Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, perjuangan tidak berhenti pada sejarah. Perjuangan terus berlangsung melalui pendidikan, pengabdian kepada masyarakat, keberanian menyampaikan gagasan, serta kepedulian terhadap persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar.

Dari sebuah forum diskusi, kesadaran dapat tumbuh menjadi gagasan. Dari gagasan, konsolidasi dapat dibangun. Dan dari konsolidasi, lahir gerakan yang lebih terarah.

Karena mahasiswa tidak seharusnya hanya menjadi penonton perubahan. Mahasiswa juga memiliki peran untuk membaca, mengawal, dan ikut menentukan arah perubahan.

Merdeka bukan hanya untuk dikenang, tetapi menjadi tanggung jawab untuk terus diperjuangkan.

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *