Intensnews.id, PALEMBANG – Bermain adalah bagian penting dari keseharian anak usia dini. Melalui bermain, anak mengeksplorasi dunia di sekitarnya dan belajar banyak hal. Pada awalnya, anak biasanya bermain dengan caranya sendiri secara mandiri dan spontan.
Namun, seiring bertambahnya usia dan pengalaman, cara mereka bermain juga berkembang. Anak mulai menunjukkan minat untuk bermain bersama teman-temannya.
Mereka tidak hanya bermain sendiri, tetapi mulai terlibat dalam permainan kelompok yang sederhana, lalu beranjak pada permainan yang memiliki aturan dan kesepakatan bersama. Perjalanan ini menunjukkan tahapan perkembangan bermain anak dari sekadar mengamati, lalu ikut mencoba, hingga akhirnya mampu berpartisipasi aktif dalam permainan bersama teman secara teratur dan terstruktur.
Menurut Jean Piaget, perkembangan bermain pada anak dapat dibagi ke dalam beberapa tahapan sesuai dengan usia dan kemampuan berpikirnya:
1. Tahap Sensori Motor (0–2 tahun)
Pada tahap ini, anak masih sangat bergantung pada panca indra dan gerakan tubuhnya untuk mengenali dunia di sekitarnya. Bermain bagi anak di usia ini adalah pengalaman fisik menyentuh, menggenggam, menggigit, atau menggoyangkan benda. Oleh karena itu, mainan yang cocok adalah yang mampu merangsang indra, seperti benda berwarna cerah, beragam bentuk dan tekstur, serta aman untuk digigit atau dimasukkan ke mulut.
2. Tahap Praoperasional (2–7 tahun)
Di usia ini, anak mulai menunjukkan kemampuan bermain pura-pura dan berimajinasi. Mereka senang menirukan peran orang dewasa atau membuat skenario khayalan, seperti bermain masak-masakan atau menjadi dokter. Mereka juga mulai banyak bertanya dan tertarik pada simbol-simbol. Mainan yang merangsang kreativitas dan imajinasi sangat tepat di tahap ini, seperti balok bangunan (lego), puzzle sederhana, alat menggambar, dan boneka peran.
3. Tahap Operasional Konkret (7–11 tahun)
Anak pada tahap ini sudah mulai berpikir lebih logis dan objektif. Mereka mulai bisa memahami aturan permainan dan menikmati permainan yang melibatkan strategi sederhana. Aktivitas bermain menjadi lebih sosial melibatkan kerja sama atau kompetisi dengan teman sebaya. Permainan seperti dakon, ular tangga, puzzle kompleks, dam-daman, dan monopoli sangat cocok karena menantang cara berpikir serta melatih kemampuan memecahkan masalah.
4. Tahap Formal Operasional (11 tahun ke atas)
Di tahap ini, anak sudah mampu berpikir secara abstrak dan memahami konsep yang lebih kompleks, termasuk aturan-aturan dalam permainan. Bermain sudah tidak sekadar untuk bersenang-senang, tetapi juga menjadi ajang untuk menguji kemampuan dan bersaing. Permainan dengan aturan ketat, seperti olahraga atau permainan strategi, mulai digemari. Anak sudah memahami konsep menang dan kalah, dan mampu mengikuti kompetisi secara sehat.
Menurut Terapis Wicara Bangkit Pratama, kurangnya aktivitas bermain bisa berdampak langsung pada keterlambatan perkembangan bahasa anak. Ia menjelaskan bahwa saat bermain, anak-anak sebenarnya tidak hanya bersenang-senang mereka juga sedang belajar. Melalui bermain, anak belajar mengenal kata-kata baru, berlatih berbicara, serta memahami bagaimana berkomunikasi dengan orang lain. Jadi, ketika waktu bermain berkurang, kesempatan anak untuk belajar bahasa secara alami pun ikut berkurang.
“Jika anak-anak kurang bermain dan berinteraksi dapat menyebabkan perkembangan bahasanya terhambat, karena dengan permainan anak akan lebih enjoy dalam menikmati proses belajar berbicara,” kata Bangkit dalam diskusi memperingati Hari Kesadaran Autisme Sedunia yang diikuti secara daring di Jakarta, Minggu.
Bangkit menjelaskan bahwa permainan adalah fondasi penting dalam perkembangan bahasa anak. Karena itu, sudah sepatutnya orang tua terlibat aktif dalam mengajak anak bermain dan berinteraksi setiap hari. Ia menambahkan, ada banyak jenis permainan yang bisa dimanfaatkan untuk mendukung kemampuan berbahasa anak. Misalnya, symbolic play seperti menebak bentuk-bentuk benda di sekitar, pretend play atau permainan pura-pura seperti bermain dokter-dokteran, serta basic play seperti permainan sederhana cilukba. Semua bentuk permainan ini, menurutnya, bukan hanya menyenangkan, tetapi juga membantu anak memahami bahasa dan cara berkomunikasi dengan cara yang alami.
“Usia tiga tahun kebawah jika duduk satu jam itu tidak bagus dan tidak fokus. Ajak mereka lari sambil bersuara,” kata Bangkit.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak ahli tumbuh kembang anak menyampaikan keprihatinan terhadap semakin berkurangnya waktu bermain bebas pada anak, khususnya di usia dini. Anak-anak kini lebih sering terpapar layar gawai, dituntut mengikuti kegiatan akademik sejak usia sangat muda, dan tidak selalu memiliki akses ke ruang terbuka yang aman untuk bermain. Semua hal ini membuat waktu bermain yang seharusnya menjadi bagian penting dari masa kecil mereka justru terabaikan.
Penelitian dari berbagai lembaga pendidikan anak usia dini menunjukkan bahwa aktivitas bermain terutama yang melibatkan imajinasi dan interaksi memiliki peran besar dalam perkembangan bahasa anak. Saat anak bermain peran, bercakap-cakap dengan teman, atau membayangkan berbagai skenario, mereka sebenarnya sedang belajar menyusun kalimat, menambah kosakata, dan memahami bagaimana cara berkomunikasi dengan orang lain dalam berbagai situasi.
Sayangnya, anak-anak yang jarang mendapat kesempatan untuk bermain bebas seringkali menunjukkan tanda-tanda keterlambatan dalam berbicara, memahami bahasa, maupun berinteraksi dengan orang lain. Data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga menunjukkan bahwa dalam lima tahun terakhir, kasus keterlambatan bicara (speech delay) semakin meningkat. Salah satu penyebab utamanya adalah kurangnya stimulasi sosial dan verbal yang biasanya didapat anak saat bermain dan berkomunikasi secara langsung.
Selain itu, dominasi penggunaan layar digital mengurangi interaksi tatap muka anak-anak. Akibatnya, mereka menjadi kurang terbiasa mendengarkan intonasi suara, merespons ekspresi wajah, atau menyusun kalimat secara alami. Padahal, hal-hal seperti ini sangat penting untuk perkembangan kemampuan berbicara dan berkomunikasi mereka.
Menurut opini Penulis bermain adalah salah satu hal terpenting dalam perkembangan anak usia dini. Melalui permainan, anak-anak tidak hanya bersenang-senang, tetapi juga belajar memahami dunia di sekitar mereka. Lebih dari itu, bermain membantu mereka mengasah kemampuan berbicara, keterampilan sosial, dan cara berpikir. Teori Jean Piaget mengajarkan kita bahwa permainan anak berkembang seiring usia mereka, dari yang lebih fisik dan langsung di awal, hingga permainan yang melibatkan strategi dan aturan saat mereka mulai lebih besar.
Sayangnya, sering kali pentingnya waktu bermain ini terabaikan. Pengaruh gadget dan tuntutan akademik sejak usia dini membuat anak-anak kehilangan kesempatan untuk berinteraksi, berimajinasi, dan berkomunikasi secara langsung dengan teman-temannya. Padahal, waktu bermain adalah cara alami bagi mereka untuk belajar berkomunikasi dan memahami perasaan orang lain. Untuk itu, peran orang tua dan pendidik sangat penting dalam memastikan anak-anak mendapatkan waktu bermain yang cukup, agar mereka bisa tumbuh berkembang dengan baik, baik secara sosial, emosional, maupun kognitif.





