IntensNews.id – Nama Putri Dakka tidak bisa dilepaskan dari dinamika Partai NasDem di Luwu Raya. Ia tercatat sebagai salah satu kader yang berkontribusi langsung terhadap penguatan struktur dan elektoral partai yang dipimpin oleh Surya Paloh tersebut.
Menjelang tahun politik 2022, Putri Dakka dipercaya menjabat Ketua DPD NasDem Kabupaten Luwu Utara. Pada periode kepemimpinannya, kursi NasDem di DPRD Luwu Utara meningkat dari empat menjadi enam kursi.
Kenaikan itu bukan angka yang lahir tiba-tiba, melainkan hasil konsolidasi organisasi dan kerja politik yang terstruktur.
Dalam Pemilu Legislatif, ia maju sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI dari Dapil III Sulawesi Selatan dengan nomor urut 7. Putri Dakka meraih lebih dari 53 ribu suara. Dalam kontestasi yang ketat, angka tersebut menunjukkan basis dukungan riil di masyarakat.
Meski begitu, NasDem hanya memperoleh dua kursi di Dapil III Sulawesi Selatan. Kursi tersebut ditempati oleh Rusdi Masse dan Eva Stevany Rataba. Putri Dakka berada di posisi ketiga dari tujuh kader yang bertarung di dapil itu.
Situasi berubah ketika Rusdi Masse berpindah ke Partai Solidaritas Indonesia. Perpindahan ini memunculkan ruang pembahasan mengenai mekanisme Pergantian Antar Waktu (PAW), yang secara hukum telah diatur dalam Undang-Undang Pemilu dan memiliki prosedur kelembagaan yang jelas.
Di titik ini, etika komunikasi politik menjadi penting. Pernyataan Ketua DPW NasDem Sulawesi Selatan terkait proses PAW dinilai memicu polemik internal dan menjadi konsumsi publik melalui sejumlah media. Padahal, mekanisme PAW bukan ruang spekulasi, melainkan ruang administratif yang tunduk pada regulasi.
Di sisi lain, pernyataan Wakil Ketua DPP NasDem menegaskan bahwa proses PAW harus berjalan sesuai ketentuan Undang-Undang Pemilu. Artinya, rujukan utama adalah hukum, bukan opini personal atau manuver politik.
Saat ini, meskipun tidak lagi menjabat Ketua NasDem Luwu Utara dan hanya berstatus sebagai kader, Putri Dakka tetap aktif berkomunikasi dengan pengurus di tingkat DPP. Sikap tersebut menunjukkan bahwa loyalitasnya terhadap partai tidak berhenti pada jabatan.





