Tasikmalaya, intensnews.id – Sikap tertutup ditunjukkan Kepala Dinas Sosial Kabupaten Tasikmalaya terkait polemik dugaan pemberian map merah berisi amplop kepada sejumlah wartawan. Hingga saat ini, yang bersangkutan belum memberikan keterangan resmi dan sulit dihubungi saat dimintai konfirmasi oleh awak media.
Sebelumnya, Sekretaris Dinas Sosial Kabupaten Tasikmalaya, dr. Iman, sempat menyampaikan melalui pesan WhatsApp pada Senin (09/03/2026) bahwa pihaknya bersedia menemui awak media pada Selasa (10/03/2026) untuk memberikan klarifikasi terkait isu yang tengah menjadi sorotan publik tersebut.
Namun, pertemuan yang dijanjikan itu tidak pernah terealisasi. Pada Selasa pagi sekitar pukul 09.00 WIB, Sekretaris Dinas Sosial hanya mengirimkan pesan singkat yang menyebutkan bahwa pertemuan tidak dapat dilaksanakan karena adanya halangan.
Alih-alih memberikan penjelasan langsung, awak media justru diarahkan untuk meminta klarifikasi kepada Kepala Bidang KB di lingkungan Dinas Sosial Kabupaten Tasikmalaya.
Sikap saling lempar tanggung jawab ini menimbulkan tanda tanya di kalangan awak media dan publik. Pasalnya, isu yang berkembang bukan persoalan sepele, melainkan dugaan pemberian map merah berisi amplop kepada wartawan usai kegiatan klarifikasi anggaran program intervensi stunting.
Publik pun mempertanyakan komitmen transparansi di tubuh Dinas Sosial Kabupaten Tasikmalaya. Jika memang tidak ada yang perlu ditutupi, seharusnya pimpinan instansi dapat memberikan penjelasan secara terbuka, bukan justru menghindari konfirmasi dan mengalihkan pertanyaan kepada pejabat lain.
Sikap bungkam tersebut justru berpotensi memunculkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat. Terlebih, isu pemberian amplop kepada wartawan merupakan persoalan serius yang menyangkut integritas birokrasi serta independensi pers.
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Tasikmalaya belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan tersebut. Awak media masih menunggu klarifikasi terbuka agar polemik “map merah berisi amplop” ini tidak terus berkembang dan menimbulkan spekulasi publik.






