Program Bergizi atau Asal Variasi? Balita Diduga Diberi Mendoan di Dapur MBG Jayapura 2

  • Bagikan

Tasikmalaya, intensnews.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas untuk meningkatkan kualitas gizi anak justru menuai sorotan di Desa Lengkongjaya, Kecamatan Cigalontang. Sejumlah orang tua siswa mempertanyakan menu yang dibagikan kepada balita, setelah diduga terdapat tempe mendoan—makanan olahan yang digoreng—dalam paket makanan.

Kritik tersebut mencuat pada Senin (09/02/2026), saat para orang tua mengetahui jenis makanan yang diterima anak-anak mereka, termasuk balita usia sekitar satu tahun.

Para orang tua menilai menu tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan gizi dan keamanan pangan balita, yang umumnya masih membutuhkan makanan bertekstur lembut, rendah minyak, dan mudah dicerna.

Salah seorang wali murid yang enggan disebutkan namanya mengaku terkejut dan khawatir.

“Balita itu butuh makanan yang lembut dan aman untuk pencernaannya. Ini malah diberi mendoan yang digoreng dan berminyak. Apalagi ada bayi usia satu tahun. Kami khawatir dampaknya terhadap kesehatan anak,” ujarnya.

Orang tua lainnya mempertanyakan proses perencanaan dan pengawasan menu dalam program yang bertujuan menekan angka stunting serta meningkatkan kualitas gizi generasi masa depan.

“Kalau ini memang program bergizi untuk balita, harusnya benar-benar disesuaikan dengan usia anak. Jangan disamakan dengan anak di atas dua tahun atau orang dewasa,” tambahnya.

Klarifikasi Pengelola Dapur MBG

Menanggapi polemik tersebut, pihak pengelola Dapur MBG Jayapura 2 Cigalontang melalui pesan WhatsApp menyampaikan klarifikasi. Ahli gizi yang terlibat dalam penyusunan menu menjelaskan bahwa tempe merupakan sumber protein nabati, sedangkan terigu mengandung karbohidrat sebagai sumber energi, protein, dan mineral seperti zat besi.

“Untuk balita tidak ada pantangan khusus. Tempe mendoan tetap makanan bergizi yang dapat mendukung kebutuhan tubuh jika dikonsumsi dengan porsi yang tepat,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa menu tersebut telah melalui pembahasan bersama ahli gizi, diolah secara higienis, menggunakan minyak bersih, tanpa sambal atau rasa pedas, serta diberikan dalam porsi terkontrol.

“Mendoan bukan menu harian, hanya salah satu variasi olahan tempe. Dalam pedoman gizi yang dilihat adalah kecukupan gizi, keamanan, dan kesesuaian usia anak. Tidak ada larangan khusus soal tempe atau terigu untuk anak di atas dua tahun selama konsumsi wajar dan diawasi,” ujarnya.

Sorotan pada Segmentasi Usia

Namun, klarifikasi tersebut memunculkan pertanyaan lanjutan. Orang tua menyebutkan bahwa penerima manfaat di Desa Lengkongjaya mencakup balita usia sekitar satu tahun, bukan hanya anak di atas dua tahun.

Hal ini memunculkan pertanyaan krusial: apakah menu MBG telah disesuaikan secara spesifik berdasarkan kelompok usia, ataukah didistribusikan dengan pola yang sama untuk semua penerima?

Para orang tua mendesak evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional dapur MBG, khususnya terkait segmentasi usia, transparansi menu, kandungan gizi, serta pengawasan dari dinas terkait.

Program MBG sejatinya bertujuan mulia untuk memperbaiki kualitas gizi anak dan menekan angka stunting. Namun, tanpa pengawasan ketat, perencanaan matang, serta komunikasi terbuka dengan orang tua, program ini dinilai berisiko kehilangan kepercayaan publik.

“Jangan sampai program yang katanya untuk masa depan anak malah jadi eksperimen menu untuk balita,” tegas salah satu wali murid.

Kini, sorotan publik tertuju pada penyelenggara dan instansi terkait untuk memberikan langkah evaluasi konkret, bukan sekadar klarifikasi normatif.

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *