Program Makan Bergizi Gratis di Cigalontang Disorot, Orang Tua Murid Keluhkan Roti Tanpa Tanggal Produksi

  • Bagikan

TASIKMALAYA, intensnews.id – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, menuai sorotan dari para orang tua murid. Program yang bertujuan meningkatkan asupan gizi siswa tersebut dipertanyakan setelah ditemukan roti yang dibagikan kepada siswa tanpa mencantumkan tanggal produksi maupun tanggal kedaluwarsa.

Kondisi ini membuat sejumlah wali murid merasa khawatir terhadap keamanan makanan yang dikonsumsi anak-anak mereka di sekolah.

Salah seorang orang tua murid yang enggan disebutkan namanya mengaku terkejut saat melihat roti yang dibawa pulang anaknya. Menurutnya, pada kemasan roti tersebut tidak terdapat informasi jelas mengenai waktu produksi maupun masa berlaku konsumsi.

“Ini makanan untuk anak-anak. Harusnya jelas tanggal produksi dan kedaluwarsanya. Kalau tidak ada, bagaimana kami bisa memastikan makanan itu aman?” ujarnya, Sabtu (7/3/2026).

Tak hanya soal kualitas makanan, sebagian orang tua murid juga mulai mempertanyakan transparansi pengelolaan anggaran dalam pelaksanaan program MBG di wilayah tersebut.

Mereka menilai program yang digagas pemerintah untuk meningkatkan gizi anak sekolah seharusnya dilaksanakan secara terbuka, akuntabel, dan diawasi secara ketat, mengingat program tersebut menyangkut kesehatan siswa.

“Anggarannya besar, tapi menu yang diberikan terkesan kurang diperhatikan. Bahkan roti yang dibagikan tidak jelas tanggal produksinya,” kata wali murid lainnya.

Sorotan dari masyarakat ini memunculkan dugaan bahwa pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG di tingkat lapangan masih belum optimal.

Sejumlah pihak pun mendesak pemerintah daerah serta instansi terkait untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program tersebut, khususnya di wilayah Kecamatan Cigalontang.

Evaluasi dinilai penting untuk menelusuri proses pengadaan makanan, distribusi, hingga penggunaan anggaran, agar pelaksanaan program benar-benar sesuai dengan tujuan awalnya, yakni meningkatkan kualitas gizi siswa.

Program yang semula diharapkan menjadi solusi pemenuhan gizi bagi anak sekolah kini justru menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat. Tanpa transparansi dan pengawasan yang kuat, program yang menyasar kesehatan generasi muda tersebut berpotensi memunculkan polemik baru di publik.

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *