Intensnews.id, PALEMBANG — Kemampuan bahasa anak usia dini sering kali menghadapi berbagai tantangan, seperti keterlambatan berbicara, pengucapan tidak jelas, atau kesulitan memahami instruksi sederhana. Namun, peran aktif orang tua terbukti menjadi kunci utama dalam mengatasi kesulitan tersebut dan membangun fondasi bahasa yang kuat.
Menurut American Speech-Language-Hearing Association (ASHA), keterlibatan orang tua dalam aktivitas komunikasi sehari-hari mampu meningkatkan kemampuan reseptif (memahami) dan ekspresif (mengungkapkan) anak secara signifikan. Penelitian ini diperkuat oleh studi Dr. Roberta Michnick Golinkoff dari University of Delaware, yang menyatakan bahwa stimulasi bahasa yang tepat dalam lingkungan rumah berpengaruh besar terhadap kecakapan literasi masa depan anak.
Teknik Membaca Bersama dan Percakapan Dua Arah
Salah satu strategi yang paling efektif adalah membiasakan membaca buku bersama anak. Dalam jurnal Early Childhood Research Quarterly (2015), Dickinson dan Tabors menjelaskan bahwa membacakan cerita sambil mengajak anak berdialog — misalnya dengan bertanya “Apa yang terjadi selanjutnya?” — membantu anak membangun keterampilan kosakata dan sintaksis.Selain itu, berbicara dengan pola percakapan dua arah, bukan hanya memberi instruksi satu arah, memperkaya pengalaman bahasa anak. “Anak perlu diberikan kesempatan berbicara, bertanya, dan menjawab, bukan hanya mendengarkan,” kata Dr. Rini Wulandari, pakar pendidikan anak usia dini dari Universitas Negeri Jakarta.
Menggunakan Musik, Permainan, dan Aktivitas Sensorik
Selain membaca, penggunaan musik dan permainan terbukti efektif dalam mengatasi hambatan bahasa. Lagu-lagu anak sederhana yang mengulang frasa, seperti “Kepala, Pundak, Lutut, Kaki,” dapat melatih pelafalan serta memperluas kosakata anak secara alami. Studi di Frontiers in Psychology (2020) menunjukkan bahwa irama musik membantu anak dengan gangguan bicara mengenali pola suara dan kata lebih baik. Aktivitas sensorik seperti bermain pasir, air, atau adonan juga dapat dikombinasikan dengan narasi sederhana, memperkuat asosiasi antara kata dan pengalaman konkret.
Konsistensi, Kesabaran, dan Dukungan Emosional
Mengatasi kesulitan bahasa membutuhkan konsistensi dan kesabaran. Anak-anak memerlukan pengulangan berkali-kali dalam suasana yang penuh dukungan emosional. Dr. Heni Djuwita dari Universitas Pendidikan Indonesia menekankan bahwa orang tua harus menanggapi setiap upaya anak berkomunikasi dengan positif, memperjelas ucapan mereka tanpa mengkritik secara langsung. Misalnya, jika anak mengatakan “mam bi” untuk “mau ambil”, orang tua dapat merespons, “Oh, kamu mau ambil? Yuk, kita ambil bersama.”
Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional?
Meskipun variasi dalam perkembangan bahasa itu normal, American Academy of Pediatrics merekomendasikan evaluasi profesional jika anak usia 2 tahun belum dapat menggabungkan dua kata atau memiliki kesulitan memahami instruksi sederhana. Terapi wicara dini dapat membantu mengatasi hambatan sebelum mempengaruhi aspek akademik dan sosial anak lebih lanjut.
Kemampuan bahasa anak usia dini dapat berkembang optimal melalui strategi yang tepat di rumah. Dengan membaca bersama, berkomunikasi aktif, menggunakan musik, serta memberikan dukungan emosional yang konsisten, orang tua dapat menjadi agen utama dalam membantu anak mengatasi





