Tak Perlu Populer untuk Berdampak: Pelajaran dari Jalan Raya Batang Kapas

  • Bagikan

PESISIR SELATAN, IntensNews.id — Di tengah hiruk-pikuk politik yang kerap mengejar popularitas dan pencitraan, ada satu pesan sederhana yang justru layak direnungkan:

“Tak perlu disukai banyak orang untuk menjadi besar. Jalan dan lakukan yang terbaik.”

Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa ukuran seorang pemimpin tidak semata-mata terlihat dari banyaknya tepuk tangan, jumlah pengikut, atau seberapa sering namanya muncul di media sosial.

Ukuran kepemimpinan justru dapat dilihat dari seberapa banyak persoalan masyarakat yang mampu diselesaikan.

Contohnya dapat ditemukan di Jalan Raya Batang Kapas, Nagari IV Koto Hilie. Persoalan saluran air atau selokan yang tersumbat sampah telah berlangsung cukup lama. Tidak selalu menjadi perhatian publik, tidak viral di media sosial, namun dampaknya nyata: ketika hujan turun, genangan dapat mengganggu dan meresahkan warga.

Dalam kondisi seperti itu, masyarakat tidak membutuhkan banyak pidato.

Yang dibutuhkan adalah orang yang mau turun langsung, melihat persoalan, mengangkat sampah, berkoordinasi dengan instansi terkait seperti Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta memastikan persoalan tersebut benar-benar ditangani.

Pemimpin bukan sekadar pencari panggung. Pemimpin adalah pelayan masyarakat.

Seorang tokoh masyarakat menyampaikan pandangan yang sederhana namun bermakna.

“Pemimpin itu bukan pencari panggung. Pemimpin itu pelayan.”

Pesan tersebut relevan bagi siapa saja yang memiliki tanggung jawab di tengah masyarakat, baik aktivis, calon anggota legislatif, perangkat nagari, maupun mereka yang kelak dipercaya memimpin daerah.

Popularitas bisa datang dan pergi. Jumlah like dapat bertambah lalu hilang. Sorotan publik pun tidak selamanya bertahan.

Namun, kerja nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat akan meninggalkan kesan yang jauh lebih panjang.

Sebab, masyarakat pada akhirnya akan mengingat siapa yang hadir ketika mereka membutuhkan bantuan, bukan hanya siapa yang paling sering tampil ketika kamera menyala.

Jangan Mengejar Tepuk Tangan

Menjadi pemimpin tidak harus selalu populer. Tidak pula harus disukai semua orang.

Terkadang, keputusan yang benar justru tidak selalu menghasilkan tepuk tangan. Ada kalanya seseorang harus berjalan sendirian ketika memperjuangkan sesuatu yang diyakininya benar dan bermanfaat bagi masyarakat.

Karena itu, daripada sibuk mengejar popularitas, lebih baik mengejar manfaat.

Daripada mengejar pujian, lebih baik mengejar kepercayaan.

Dan daripada mengejar pencitraan, lebih baik meninggalkan bukti kerja yang dapat dirasakan masyarakat.

Berhentilah mengejar untuk disukai. Mulailah mengejar manfaat dan ridha Tuhan.

Sebab, orang-orang besar dalam sejarah bukan selalu mereka yang disukai semua orang. Mereka dikenang karena berani berjalan, bekerja, dan memberikan manfaat—bahkan ketika harus melangkah tanpa banyak sorotan.

Kerja nyata tidak selalu viral. Tetapi dampaknya bisa dirasakan banyak orang.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *