UNCP Kembangkan SOLAR-SEA IoT, Prototipe Pengering Rumput Laut Berbasis Energi Surya dan IoT

  • Bagikan

PALOPO, IntensNews.id — Tim dosen Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP) mengembangkan SOLAR-SEA IoT (Solar Sea Internet of Things), prototipe alat pengering rumput laut pascapanen yang mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT), energi surya, dan efek rumah kaca atau Solar Greenhouse.

Inovasi tersebut dikembangkan untuk menjawab persoalan pengeringan rumput laut yang selama ini masih dilakukan secara konvensional dengan mengandalkan sinar matahari langsung di ruang terbuka.

Kondisi tersebut membuat proses pengeringan sangat bergantung pada cuaca. Selain itu, rumput laut juga rentan terkena debu, pasir, air hujan, hingga gangguan hewan yang dapat memengaruhi kebersihan dan kualitas hasil pengeringan.

Salah satu kelompok pembudidaya yang menjadi mitra penelitian adalah Kelompok Budi Daya Rumput Laut Sinar Katonik di Kelurahan Songka, Kota Palopo.

Penelitian dan pengembangan SOLAR-SEA IoT merupakan bagian dari Program Hilirisasi Riset Prioritas – Pengujian Model dan Prototipe Tahun 2026. Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) dari level 4 menuju level 6, yakni dari tahap validasi komponen hingga demonstrasi prototipe pada lingkungan yang relevan.

Penelitian mulai dilaksanakan pada 23 Juli 2026 dengan menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama Kelompok Budi Daya Rumput Laut Sinar Katonik di Songka.

FGD dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan pengguna, termasuk lama proses pengeringan, ketergantungan terhadap kondisi cuaca, kualitas hasil pengeringan, kapasitas alat, serta kemudahan pengoperasian dan pemeliharaan.

Masukan dari kelompok mitra kemudian menjadi dasar dalam penyusunan spesifikasi dan desain prototipe. Tim juga melakukan diskusi internal untuk menyusun blueprint penelitian yang mencakup rancangan struktur Solar Greenhouse, arsitektur sistem IoT, pemilihan sensor, panel surya, hingga sistem monitoring.

Tahap berikutnya dilakukan melalui pembuatan dan perakitan prototipe. Struktur utama Solar Greenhouse dibangun dengan rangka yang diperkuat, kemudian dilapisi material tembus cahaya untuk memaksimalkan penyerapan panas matahari.

Prototipe tersebut juga dilengkapi rak pengering bertingkat agar rumput laut tidak bersentuhan langsung dengan tanah. Sistem pendukung lainnya terdiri atas panel surya, baterai, ventilasi, ESP32, sensor suhu, sensor kelembapan, serta sensor kadar air.

Setelah perangkat keras selesai dirakit, tim melakukan integrasi dengan perangkat lunak dan mengonfigurasi dashboard monitoring IoT agar mampu menampilkan data secara real-time.

Kalibrasi sensor menggunakan alat ukur standar juga dilakukan, termasuk pengujian komunikasi data. Selanjutnya, prototipe menjalani uji fungsional di lingkungan laboratorium melalui black box testing, pengujian dashboard, pembacaan sensor, dan pengujian kestabilan sistem secara menyeluruh.

Setelah dinyatakan berfungsi dengan baik di laboratorium, SOLAR-SEA IoT kemudian diuji langsung di lapangan bersama Kelompok Sinar Katonik menggunakan rumput laut hasil budi daya mitra.

Dalam uji lapangan tersebut, tim mengamati kestabilan suhu dan kelembapan ruang pengering, kadar air akhir rumput laut, lama proses pengeringan, serta kemampuan modul IoT dalam mencatat dan mengirimkan data secara real-time.

Hasil pengujian kemudian dibandingkan dengan metode penjemuran konvensional untuk mengetahui efektivitas sistem.

Secara teknis, Solar Greenhouse pada prototipe berfungsi memerangkap panas matahari sekaligus menjaga kondisi ruang pengering tetap lebih terkontrol. Sistem tertutup juga memberikan perlindungan terhadap debu dan air hujan.

Panel surya digunakan sebagai sumber energi utama untuk mendukung sistem sirkulasi udara dan pemanas cadangan. Sementara modul IoT berfungsi merekam data suhu, kelembapan, dan kadar air secara berkelanjutan.

Berdasarkan hasil penelitian, prototipe SOLAR-SEA IoT mampu berfungsi sesuai rancangan. Sistem dapat memantau suhu dan kelembapan secara otomatis, mengirimkan data secara real-time, serta memanfaatkan energi surya sebagai sumber daya utama.

Dibandingkan dengan penjemuran terbuka, ruang pengering tertutup pada prototipe memberikan kondisi pengeringan yang lebih terkontrol sekaligus mengurangi paparan terhadap hujan, debu, dan kontaminasi lainnya.

Integrasi IoT juga memungkinkan kondisi proses pengeringan dipantau melalui perangkat yang terhubung dengan internet.

Setelah uji lapangan, tim melakukan evaluasi, penyempurnaan desain prototipe, penyusunan manual book, dokumentasi penelitian, serta produksi video luaran sebagai bagian dari persiapan peningkatan TKT 4 menuju TKT 6.

Tim peneliti menyatakan SOLAR-SEA IoT berpotensi mendukung proses pascapanen rumput laut yang lebih efektif, higienis, dan terukur. Ke depan, teknologi tersebut akan terus disempurnakan dan diarahkan untuk dapat diterapkan pada kelompok pembudidaya rumput laut di wilayah lainnya.

Penelitian ini dipimpin Ketua Peneliti Safwan Kasma, S.Kom., M.Pd., bersama anggota tim dosen peneliti Syam, S.IP. dan Siaulhak, S.Kom., M.Pd.. Penelitian juga melibatkan mahasiswa, yakni Andini Sukmawati, Wahdania Ikhsan, dan Nazira Sabrina Munir.

Tim peneliti menyampaikan terima kasih kepada Direktorat Hilirisasi dan Kemitraan, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, atas dukungan terhadap pelaksanaan penelitian tersebut.

 

 

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *